Selasa, 10 Januari 2017

Sekolah
        Saya dan sekolah sudah setiap hari (kecualilibur) kami bertemu. Walaupun membosankan tapi ada yang menyenangkan.  Disetiap ada kesusahan pasti ada teman membantu. Di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Roda hidup yang berputar juga membuat misteri tentang nilai yang akan keluar. Dimanapun peluang muncul jangan sia-siakan peluang sekecil apapun, jangan pernah menyesal karena sesal tidak akan mengubah semuanya dan Mulailah sebuah perjalanan dengan tujuan akhir yang jelas.

          Saya siswa kelas 9 SMP Putra Bangsa angkatan ke-2, walau masuknya di SMP tapi teman-teman bias menerima saya menjadi teman yang baik. Meskipun awalnya saya dianggap “kemaki” oleh teman yang berinisial SR yang sekarang sudah menjadi teman. Ada senang dan banyak sedihnya waktu sekelas dengan teman-teman.Mulai dari kejadian kecil dan yang memalukan yang kita anggap seru.Saya akan mulai dengan kelas yang terkecil yang awalnya agak dikucilkan. Kejadian ini asli dari narasumber yang terpercaya...!!!

          Saya awal masuk SMP pada tahun 2014, awal masuk saya terlambat karena belum terbiasa dengan sekolah jarak jauh pada masa itu. Saya juga beradaptasi karena dari sekolah negeri ke sekolah swasta, awalnya masih binggung dengan peraturan yang ada tapi lama kelamaan pelanggaran saya makin banyak. Saya mulai mencari teman saat itu dan mulai mengenal dunia Game yang sampai saat ini sudah memiliki banyak teman dengan komunitas yang luas, bisa dibilang sukses untuk mendirikan sebuah perkumpulan. Pertama kali saya ikut ekskul saya memilih dengan banyak ekskul sampai tidak cukup waktu saya untuk melakukan les dan ekskul. Saat itu saya bisa melakukannya tapi lama kelamaan mulai malas dan capek karena banyak tekanan.

          Kelas 8 saya memulai terbiasa dengan sifat teman-teman yang sudah saya ketahui sendiri. Saya mulai agak santai dengan sekolah karena banyak tugas yang menumpuk karena waktu dikumpulkan yang terbilang mepet. Di kelas 8 juga saya mengikuti lomba menari yang sangat mengecewakan karena keputusan juri, kita sudah berlatih beberapa minggu sebelumnya dengan susah-susahnya seorang pemain sepak bola yang terpaksa “bertransisi” menjadi seorang penari. Walau sudah kecewa saya tetap terima dengan keputusan yang bagi kita tidak adil, karena jika kita terlalu terlarut dalam kesedihan kita hanya diam dan menunggu takdir tapi jika kita melanjutkan perjalanan semua yang kita sesali akan terbayar berkali-kali lipat. Di kelas 8 juga kita melakukan study tour ke Surabaya, Madura, dan Malang yang bagi saya paling seru bagi kita. Dan ada 1 kejadian mungkin saya ingat karena guru-gurunya (Bu Trisna, Miss Widi, dan guru yang lainnya) bersekongkol untuk mengerjain saya saat ulang tahun :D


          Kelas 9 kelas terakhir dan saya sedang jalankan. Kelas dengan kedisiplinan tingkat tinggi yang membuat stress. Di kelas ini juga saya mulai meninggalkan teman-teman, game dan hal lainnya. Harapan saya agar dapat melanjutkan ke SMA dengan baik, dapat membahagiakan ortu, mendapat apa yang saya inginkan. Sudah sekian cerita tentang saya. Saya mungkin bukan orang yang baik tapi saya mencoba menjadi hal yang lebih baik.

11 komentar: